A Dream

Posted on 4 Juni 2013
A Dream

Ada seorang gadis muda yang sangat suka menari. Kepandaiannya menari sangat menonjol dibanding semua rekannya, sehingga dia seringkali menjadi juara di berbagai perlombaan yang diikutinya. Dia berpikir, dengan apa yang dimilikinya saat ini, suatu saat apabila dewasa nanti dia ingin menjadi penari kelas dunia. Dia membayangkan dirinya menari di Rusia, Cina, Amerika, Jepang, serta ditonton oleh ribuan orang yang memberi tepukan kepadanya.

Suatu hari, kotanya dikunjungi oleh seorang pakar tari yang berasal dari luar negeri. Pakar ini sangatlah hebat, dan dari tangan dinginnya telah banyak dilahirkan penari-penari kelas dunia. Gadis muda ini ingin sekali menari dan menunjukkan kebolehannya di depan sang pakar tersebut, bahkan jika mungkin memperoleh kesempatan menjadi muridnya.

Akhirnya kesempatan itu datang juga. Si gadis muda berhasil menjumpai sang pakar di belakang panggung, seusai sebuah pagelaran tari. Si gadis muda bertanya: “Pak, saya ingin sekali menjadi penari kelas dunia. Apakah anda punya waktu sejenak, untuk menilai saya menari? Saya ingin tahu pendapat anda tentang tarian saya”. “Oke, menarilah di depan saya selama 10 menit”, jawab sang pakar.

Belum lagi 10 menit berlalu, sang pakar berdiri dari kursinya, lalu berlalu meninggalkan si gadis muda begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Betapa hancur si gadis muda melihat sikap sang pakar. Si gadis langsung berlari keluar. Pulang ke rumah dan langsung menangis tersedu-sedu. Dia menjadi benci terhadap dirinya sendiri. Ternyata tarian yang selama ini dia bangga-banggakan tidak ada apa-apanya di hadapan sang pakar. Kemudian dia ambil sepatu tarinya, dan dia lemparkan ke dalam gudang. Sejak saat itu, dia bersumpah tidak akan menari lagi.

Puluhan tahun berlalu. Sang gadis muda kini telah menjadi ibu dengan tiga orang anak. Suaminya telah meninggal. Dan untuk menghidupi keluarganya, dia bekerja menjadi pelayan dari sebuah toko di sudut jalan.

Suatu hari, ada sebuah pagelaran tari yang diadakan di kota itu. Nampak sang pakar berada di antara para menari muda di belakang panggung. Sang pakar nampak tua, dengan rambutnya yang memutih. Si ibu juga datang ke pagelaran tari tersebut dengan tiga anaknya. Seusai acara, ibu ini membawa ketiga anaknya ke belakang panggung, mencari sang pakar, dan memperkenalkan ketiga anaknya kepada sang pakar.

Sang pakar masih mengenali ibu ini, dan kemudian mereka terlibat dalam pembicaraan. Si ibu bertanya, “Pak, ada satu pertanyaan yang mengganjal di hati saya. Ini tentang penampilan saya sewaktu menari di hadapan anda bertahun-tahun yang silam. Sebegitu jelekkah penampilan saya saat itu, sehingga anda langsung pergi meninggalkan saya begitu saja, tanpa mengatakan sepatah katapun?”

“Oh ya, saya ingat peristiwanya. Terus terang, saya belum pernah melihat tarian seindah yang anda lakukan waktu itu. Saya rasa anda akan menjadi penari kelas dunia. Saya tidak mengerti mengapa anda tiba-tiba berhenti dari dunia tari”, jawab sang pakar.

Si ibu sangat terkejut mendengar jawaban sang pakar. “Ini tidak adil!”, serunya. “Sikap anda telah mencuri semua impian saya. Kalau memang tarian saya bagus, mengapa anda meninggalkan saya begitu saja ketika saya baru menari beberapa menit. Anda seharusnya memuji saya, dan bukan mengacuhkan saya begitu saja. Mestinya saya bisa menjadi penari kelas dunia. Bukan hanya menjadi pelayan toko!”

Si pakar menjawab dengan tenang “Tidak.. tidak, saya rasa saya telah berbuat dengan benar. Anda tidak harus minum anggur satu barel untuk membuktikan anggur itu enak kan? Demikian juga saya. Saya tidak harus menonton anda 10 menit untuk membuktikan tarian anda bagus. Malam itu saya juga sangat lelah setelah pertunjukkan. Maka sejenak saya tinggalkan anda, untuk mengambil kartu nama saya, dan berharap anda mau menghubungi saya lagi keesokan hari. Tapi anda sudah pergi ketika saya keluar. Dan satu hal yang perlu anda camkan, bahwa Anda mestinya fokus pada impian Anda, bukan pada ucapan atau tindakan saya.“

“Lalu pujian? Anda mengharapkan pujian? Ah, waktu itu anda sedang bertumbuh. Pujian itu seperti pedang bermata dua. Ada kalanya memotivasi, bisa pula melemahkan. Dan faktanya saya melihat bahwa sebagian besar pujian yang diberikan pada saat seseorang sedang bertumbuh, hanya akan membuat dirinya puas dan pertumbuhannya berhenti. Saya justru lebih suka mengacuhkanmu, agar hal itu bisa melecutmu, bertumbuh lebih cepat lagi. Lagipula, pujian itu sepantasnya datang dari keinginan saya sendiri. Tidak pantas anda meminta pujian dari orang lain.”

“Anda lihat, ini sebenarnya hanyalah masalah sepele. Seandainya anda pada waktu itu tidak menghiraukan apa yang terjadi dan tetap menari, mungkin hari ini anda sudah menjadi penari kelas dunia.”

Mungkin anda sakit hati pada waktu itu, tapi sakit hati anda akan cepat hilang begitu anda berlatih kembali. Tapi sakit hati karena penyesalan anda hari ini tidak akan bisa hilang selama-lamanya.”

Berapa banyak kita seperti gadis muda dalam kisah diatas? Bila kita cermati, yang mengubur impiannya sebagai penari kelas dunia adalah dirinya sendiri, bukan sang pakar. Seperti gadis itu, seringkali kita menuduh orang lain yang bersalah atas keadaan kita saat ini.

Sesungguhnya, kitalah yang “berkuasa” atas hidup kita dan setiap keputusan kita. Kita tidak bisa mengharapkan semua orang akan selalu sepakat atau mendukung kita. Pada saat kita tahu pasti, kita sudah berada dalam track yang benar, yang bisa kita lakukan hanyalah fokus pada tujuan, melangkah dan tidak kehilangan harapan. Jangan sampai kita tenggelam dalam penyesalan sebagai akibat dari keputusan kita sendiri untuk menyerah.

Jadikan pendapat orang lain sebagai dorongan positif, tanpa harus terpaku padanya. Karena masa depan kita ditangan kita sendiri dan Tuhan telah merancangkan masa depan yang terindah untuk setiap kita, bila kita tidak menjadi lelah. Tuhan memberkati. (mj)

_PRINT

Pencarian berita

Login Donatur Papi

Testimonial

  • 28 - Graphic Design
    Saya berterimakasih buat kesempatan untuk melayani di YSKB.
  • 25 - Dokter Umum
    Syallom....Saya senang sekali terlibat dalam pelayanan di Sentuhan Kasih Bangsa,
  • 21 - Staff
    dari pelayanan bersama Sentuhan Kasih Bangsa byk pelajaran yg didapat
  • 24 - Apoteker
    Melalui pelayanan sentuhan kasih ini,saya dapat membagi kasih untuk sesama,
  • 25 - Pegawai
    Through YSKB, I learned that worshipping is equivalent with loving people.
  • 47 - Sales
    SKB adalah kegiatan yang perlu diikuti oleh seluruh jemaat GMS
  • 23 - Dokter Gigi
    saya ikut bersama YSKB saat kunjungan di liponsos keputih
  • 42 - Staff
    Wah,keren deh pokoke. gue tiba2 jadi apoteker dadakan
  • 27 - Desain
    SKB adalah ministry yang sangat efektif untuk membantu orang-orang yang membutuhkan
  • 29 - Staff
    YSKB mengajarkan saya untuk upgrade kapasitas saya
  • 56 - Graphic Art Designer
    Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati
  • 29 - Designer
    Lewat YSKB, saya dapat melayani dengan efektif dan lebih mudah daripada berusaha melayani sendiri.
  • 29 - Art And Design
    Sangat terberkati dengan pelayanan YSKB, wadah yang tepat untuk bertumbuh dan melayani Tuhan
  • 27 - Spv. Produksi / Apoteker
    YSKB adalah wadah untuk melayani sesama dan berbagi kasih tidak hanya dengan materi tetapi juga dengan kasih.
  • 27 - Staff Dept. PAW GMS Mawar Sharon
    saya bersyukur bisa melayani di sentuhan kasih bangsa, wkt itu saya ikut ke liponsos,
  • 32 - Apt
    pengalaman yg terbaru sy di YSKB yaitu di poli liponsos krn ajakan drg. Irene.
  • 52 - Pemilik Kost
    Puji Tuhan, melalui Sentuhan Kasih ini saya belajar melayani orang-orang di Liponsos.
  • 25 - Dokter Umum
    sungguh suatu kebahagiaan tersendiri dapat melayani di YSKB.
  • 27 - Dokter Gigi
    Senang banget bisa bergabung dengan tim medis di poliklinik SKB.

Upcoming Events

Saat ini tidak ada agenda